Time

Jumat, 24 Desember 2010

Pelaku Pembunuhan Pacar Sendiri Ditangkap

24/12/2010 16:11 | Pembunuhan
Liputan6.com, Semarang: Felix Setiawan (21), tersangka pembunuh Eka Septiana (18), seorang mahasiswi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, berhasil ditangkap aparat kepolisian Polda Jawa Tengah, Jumat (24/12).

Tersangka mengaku kalap ketika korban, yang dikenalnya lewat situs jejaring sosial Facebook, menamparnya. Korban yang tidak lain merupakan kekasih tersangka marah ketika tersangka mengakhiri hubungan dengannya. Korban merasa tidak terima karena keduanya sudah berhubungan intim layaknya suami istri. Percekcokan pun tidak dapat dihindari.

Tersangka lalu memukul korban dengan besi hingga tewas dan kemudian menguburnya di dapur rumah tersangka untuk menghilangkan jejak. Tersangka melarikan diri ke wilayah Demak sebelum akhirnya tertangkap aparat Polda Jawa Tengah. (APY/YUS)

Kamis, 23 Desember 2010

Okto Siap Diturunkan Pada Final AFF


Pemain yang saat ini memperkuat klub Sriwijaya FC sebelumnya mengalami cedera hamstring kaki kanan. Ini membuat dia harus menjalani perawatan khusus dari fisioterapis Timnas.

Rabu, 22 Desember 2010

Mendamaikan Warga Lewat Budaya Tabuik

Pesta tabuik digelar pada awal bulan Muharam untuk mengenang wafatnya cucu Nabi Muhammad Husien, pada perang Karbala di Irak, tahun 61 Hijriah. Tabuik adalah sejenis menara setinggi 13 meter pada bagian atas dihiasi kain warna warni, sedangkan bagian bawah berbentuk burung buroq bersayap berekor dan berkepala manusia. Ada 2 jenis tabuik yakni tabuik pasa dan tabuik subarang. Kedua tabuik ini digoyang atau dihoyak beramai-ramai dengan iringan gendang tasa. Pesta tabuik kali ini diawali dengan hoya atau goyang tabuik di tengah kota Pariaman untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa pesta budaya segera dimulai.
Selanjutnya kedua jenis tabuik ini diarak menuju pantai Gondoria Pariaman. Di pantai Gondoria sendiri, ribuan masyarakat Pariaman dan turis sudah menunggu kedatangan tabuik tersebut. Ketika akan dilarungkan ke laut, masyarakat berebut untuk mengambil bagian-bagian tabuik tersebut, karena dipercaya dapat memberikan berkah. Para pengunjung merasa senang dengan pesta tabuik tersebut.
Kedua tabuik tersebut sengaja dibuang ke laut sebagai simbol mengakhiri berbagai pertikaian yang timbul ditengah masyarakat Pariaman yang ada selama ini dan untuk menciptakan kehidupan yang damai dan tentram.